Jangan Tunggu Tua atau Pencen untuk Beramal Soleh

Nanti, manusia baru menyadari setelah merasakan betapa panjangnya masa 1 hari di padang Mahsyar, di mana 1 hari sama dengan 50.000 tahun waktu dunia

BIASANYA, untuk urusan kesenangan dan kebahagiaan di dunia, manusia cenderung mau sibuk. Tapi untuk kesenangan dan kebahagiaan hakiki di dunia ini serta persiapan kesenangan untuk kampung akhirat, manusia cenderung tidak mau sibuk. Selalu ada alasan.

Jika Anda kebetulan sedang berada di Jakarta pada hari Jumat tepatnya pada saat kuthbah dan shalat Jumat berlangsung, coba perhatikan suasana di jalan-jalan dan tempat-tempat umum, seperti terminal bus dan pusat perbelanjaan. Anda akan mendapati masih banyak orang laki-laki yang beraktivitas. Itu adalah pemandangan yang aneh. Semestinya tiap hari Jumat jalan-jalan dan tempat-tempat umum di Jakarta menjadi lebih lengang. Seharusnya mayoritas laki-laki pergi ke masjid karena Islam di Jakarta adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduknya. Demikian juga pada waktu dilaksanakannya shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Seharusnya suasana Jakarta lebih lengang lagi karena para laki-laki dan perempuan melaksanakan shalat di mushala atau masjid.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS: Al-Hadiid [57]:16)

Dalam beramal shaleh manusia cenderung menunda-nunda. Penyebabnya adalah manusia merasa belum saatnya beramal shaleh. Lebih dari itu, karena manusia merasa umurnya masih panjang atau bahkan hidup selama-lamanya. Tak ada yang dilakukannya kecuali sekadar mencari-cari alasan dan berjanji. Mencari-cari alasan seperti masih sibuk bekerja mencari nafkah, sibuk melakukan aktivitas lainnya, masih muda dan seribu alasan lain. Berjanji pada pada Allah, dirinya sendiri atau orang lain akan beramal shaleh nanti jika sudah tidak sibuk, sudah pensiun, sudah kaya, sudah tua atau janji-janji manis lainnya. Menunda-nunda beramal shaleh adalah ciri orang-orang fasik. Hati mereka keras. Adapun bagi orang beriman tidaklah layak menunda-nunda beramal shaleh. Yang layak bagi mereka adalah bersegera dalam beramal shaleh.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli . Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah [62]:9)

يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُوْلَـئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Ali Imran [3]:114)

Ketika hidup di dunia manusia merasa hidupnya masih lama atau merasa hidupnya panjang. Padahal masa hidup manusia sesungguhnya hanyalah sekejap. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam telah memberitahukan bahwa hidup di dunia seperti musafir yang sedang istirahat di bawah pohon. Istirahat tentulah tidaklah lama atau selamanya. Setelah cukup istirahat, sang musafir tentu melanjutkan perjalanan.

“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari tempat berteduh di bawah pohon, lalu istirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Manusia baru menyadarinya pada Hari Kebangkitan. Pada waktu itu mereka merasakan bahwa ketika hidup di dunia mereka hanya hidup selama sehari, setengah hari, di siang hari, di pagi hari, di waktu sore hari saja.

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَن لَّمْ يَلْبَثُواْ إِلاَّ سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَاء اللّهِ وَمَا كَانُواْ مُهْتَدِينَ

“Dan akan hari Allah mengumpulkan mereka, seakan-akan mereka tidak pernah berdiam hanya sesaat di siang hari, mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS: Yunus [10]:45)

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ

قَالُوا لَبِثْنَا يَوْماً أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلْ الْعَادِّينَ

قَالَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلاً لَّوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”

Mereka menjawab: “Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS: Al-Mu’minuun [23]:112-114)

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal melainkan di waktu sore atau pagi hari.” (QS:An-Naazi’aat [79]:46)

Mereka baru menyadarinya karena merasakan betapa panjangnya masa 1 hari di padang Mahsyar, di mana 1 hari sama dengan 50.000 tahun waktu dunia.

Bagaimana jika Allah mengumpulkan kalian (di suatu tempat) seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian? (HR. Hakim)

Karena hidup di dunia hanyalah sebentar tentulah sangat rugi jika menunda-nunda beramal shaleh. Orang beriman tidak akan mencari-cari alasan agar bisa menunda beramal shaleh, dan berjanji akan beramal shaleh di lain waktu. Namun dia selalu segera melakukannya sebagaimana kisah seorang laki-laki pada saat perang Uhud yang disebutkan dalam hadits berikut ini.

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw pada saat perang Uhud, “Bagaimana pandanganmu Ya Rasulullah jika aku terbunuh saat ini, dimanakah tempatku (setelah kematian)? Rasulullah menjawab, “Di surga”. (Mendengar sabda beliau) maka laki-laki itu melemparkan kurma yang ada di tangannya, kemudian dia (maju untuk) berperang hingga terbunuh (di medan perang).” (HR. Bukhari Muslim)

Dengan demikian dia tidak akan menyesal ketika datang kematian, meminta kepada Allah di hidupkan lagi dan berjanji akan melakukan amal-amal shaleh sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di bawah ini. Sebaliknya, jika seseorang suka menunda beramal shaleh dan sekadar mengobral janji kosong, ketika datang kematian padanya dia menyesal, meminta kepada Allah dikembalikan ke dunia lagi dan mengucapkan janji kosong.

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ

لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku, agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS: Al-Mukminuun [23]:99-100)

Bahkan hingga berada di neraka pun dia masih mengajukan permohonan dan mengucapkan janji yang sama.

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS: Faathir [35]:37)

Agar kita tidak menyesal nantinya marilah kita pergunakan sebaik mungkin setiap saat dalam hidup ini karena masa hidup kita adalah masa yang cukup untuk memikirkan dan melakukan banyak amal shaleh. Janganlah kita menjadi seperti kebanyakan manusia yang tertipu oleh dua nikmat hidup, kesehatan dan kesempatan. Mereka tidak mau dan mampu memanfaatkannya untuk beramal shaleh, malah sebaliknya mempergunakannya untuk melakukan amal-amal salah.

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan kesempatan.” (HR. Bukhori).*

Abdullah al-Musthofa, penulis peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur Malaysia, Pengelola fanspage fb SBQ (Sukses Bersama Qur’an)

sebarkanlah ilmu walaupun sebesar zarah..

semoga bermanfaat. sila like & share!

Sumber: Ais Limau

Apa kata anda?